Minggu, 24 Agustus 2014

Tour Syawal 1435 H

Kami berangkat sekeluarga dari Pekanbaru menuju Jakarta dengan pesawat Lion Air pada Selasa, 29 Juli 2014 atau bertepatan dengan tanggal 2 Syawal 1435 H pada pukul 18.45 Wib dan tiba di Jakarta lebih kurang pukul 20.30 Wib.


Sesampai di Bandara Soekarno-Hatta, kami dijemput oleh Pak Selamet tetangga Mas Danu untuk diantar ke Stasiun Gambir. Mas Danu adalah teman sekolah istri saya Tintin Suarmulo Arsih sewaktu di Kota Bumi Desa Prokimal.
Kami tiba di Stasiun Gambir lebih kurang pukul 22.00 Wib. Sesampainya di Stasiun Gambir kami langsung mengeprint tiket yang sudah dibeli secara online di Toko IndoMaret dengan bantuan petugas. Kami berangkat baru pada keesokan harinya Rabu, 30 Agustus 2014 pukul 08.45 Wib. Jadi kami harus bermalam di Stasiun. Di Stasiun oleh petugas dilarang tidur berbaring di atas kursi oleh petugas. Karena dilarang tidur saya membawa ananda Muhammad Hafiz. Z untuk jalan-jalan melihat Tugu Monas yang terletak bersebelahan dengan Stasiun Gambir. Di sana sangat ramai orang berjualan, mulai dari makanan, minuman, serta pakain dan barang-barang kerajinan dan elektronik.






Sabtu, 23 Oktober 2010

Workshop Pembinaan dan Pengembangan Rintisan Sekolah Dasar Berstandar Internasional

Pada hari Jumat, tanggal 22 Oktober 2010 saya berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Workshop Pembinaan dan Pengembangan Rintisan Sekolah Dasar Berstandar Internasional di Park Hotel Jalan DI Panjaitan Kav. 5 Jakarta Timur.
Saya berangkat dari Pekanbaru dengan Bu Nurbaiti, S.Pd utusan SD Negeri 008 Salo Kabupaten Kampar. Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta saya bertemu alumni siswa SD Negeri 001 Limapuluh yaitu Vike Itriani yang akan mengikuti PON Mini cabang olahraga Tenis Lapangan.

Selasa, 05 Oktober 2010

Mengapa Saya Masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG) ?

Setamatnya dari SD Negeri 34 (sekarang SD Negeri 017 Senapelan) tahun 1973, orang tuaku menyarankan supaya aku melanjutkan sekolah ke INS Kayu Tanam Sumatera Barat. Tetapi karena pada waktu itu merasa masih anak ingusan yang belum pernah berpisah dengan orang tua dan belum berpengalaman, maka saya menolaknya.
Orang tua saya memasukkan ke INS tersebut mungkin agar aku kelak di kemudian hari menjadi orang yang berhasil dalam kehidupan ini serta dapat membantu perekonomian keluarga, terutama membantu adik-adikku yang masih kecil (aku anak tertua dari tujuh bersaudara).
Orang tua ku hanya seorang kepala sekolah dasar yang mana pada waktu itu kehidupan keluargaku jauh dari mencukupi, sehingga orang tua ku mencari pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Sepulang dari sekolah, orang tuaku menebang hutan sambil mengambil kayu api untuk dijual, kadang-kadang memanjat pohon kelapa orang dengan upah satu kelapa dalam satu pohon. Pokoknya orang tua ku bekerja apa saja untuk menghidupi keluarganya, tentunya dengan cara yang halal.
Setamatnya saya dari SMP Negeri 3 Pekanbaru tahun 1976, saya disarankan untuk masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Saya menolaknya, karena tidak ada terpikirkan sedikitpun untuk masuk sekolah tersebut, apalagi menjadi guru.
Saya mengusulkan untuk masuk Sekolah Teknik Menengah (STM). Sebaliknya orang tua saya yang menolak sambil berkata," Buat layang-layang saja kamu tidak bisa, mau masuk STM pula". Mungkin menurut orang tuaku di STM itu lebih berat karena memerlukan keterampilan khusus.
"Kalau tidak mau masuk SPG, masuk SMPP sajalah". kata orang tuaku menyarankan. SMPP (Sekolah Menengah Pembangunan Pertama, sekarang SMA Negeri 8 Pekanbaru).Akupun menyetujuinya.
Dengan mendayung sepeda tuanya di bawah teriknya sinar matahari, pergilah orang tuaku ke sekolah tersebut untuk mendaftar, tetapi sayang sesampainya di sana penadaftaran sudah tutup, baru buka lagi besok harinya. Dengan wajah yang letih, beliau menyampaikannya hal tersebut kepadaku. Melihat keadaan yang demikian, timbul perasaan iba dihatiku dan memutuskan untuk masuk SPG.
"Masuk SPG sajalah", kataku. Ku lihat ada perubahan di wajahnya, beliau merasa senang karena memang inilah yang dia harapkan. Mungkin untuk meneruskan perjuangannya untuk menerdaskan kehidupan bangsa ini.
Dalam waktu tiga tahun saya menamatkan Sekolah Pendidikan Guru ini, tepatnya pada bulan Juni 1980.
Pada tanggal 1 Agustus 1980, saya diangkat menjadi guru di SD Negeri 68 yang kemudian berubah nama menjadi SD Negeri 021 Sekip Kecamatan Limapuluh Pekanbaru. Sekarang SD tersebut digabung dengan SD Negeri 016 Kecamatan Limapuluh Kota Pekanbaru.
Pada tanggal 27 Juli 2000, saya dimutasikan ke SD Negeri 001 Kecamatan Limapuluh Kota Pekanbaru. Saya bertugas di SD Negeri 001 Kecamatan Limapuluh Kota Pekanbaru sampai sekarang (saat tulisan ini di terbitkan)
Majelis Guru SD Negeri 001 Limapuluh Kota Pekanbaru

Minggu, 26 September 2010

Video - Duyung (Dugong dugon) Hewan Herbivora

Duyung (Dugong dugon) termasuk hewan mamalia laut. Makanannya terdiri dari tumbuhan yang hidup di laut (seagrass). Karena makanannya terdiri dari tumbuhan, maka dugong dikelompokkan ke dalam hewan herbivora.
Dugong biasanya hidup di perairan dangkal, seperti teluk, saluran mangrove, dan di pantai pulau-pulau besar.
video
Dugong termasuk hewan langka, bahkan banyak populasi dugong yang hampir punah. Hal ini disebabkan karena dugong sering diburu untuk diambil daging dan minyaknya. Selain disebabkan oleh perburuan liar, penyebab lainnya adalah parasit, predator alami mereka seperti hiu, paus pembunuh, dan buaya.

Kamis, 23 September 2010

Lipatkain Kota Khatulistiwa di Kabupaten Kampar Provinsi Riau

Tugu Khatulistiwa di Lipatkain, Riau, Indonesia
Lipatkain terletak lebih kurang 75 km di sebelah selatan Pekanbaru Ibu Kota Provinsi Riau.
Lipatkain adalah salah satu ibu kota kecamatan di Kabupaten Kampar Provinsi Riau, tepatnya Kecamatan Kampar Kiri.
Secara geografis, Lipatkain terletak pada garis lintang 0 derajat.
Pada masa kolonial Jepang, di Lipatkain dibangun tugu khatulistiwa. Tugu yang di bangun pada masa kolonial Jepang tersebut sangat sederhana yaitu hanya berupa tembok.
Sekarang tugu tersebut sudah mengalami beberapa kali pemugaran dan hasilnya seperti yang terlihat pada gambar di atas.

Selasa, 21 September 2010

Dikirimi SMS tidak Senonoh dari HP Anak Sendiri

SMS gelap
Pagi tadi di sekolah (Selasa, 21/09/2010) seluruh siswa kelas V (lima) mengikuti kegiatan gotong royong menanam bunga di taman kelasnya masing-masing. Sebelum bergotong royong saya memberikan pengarahan kepada seluruh siswa, sambil mengecek siapa siswa yang sudah membawa bunga dan siapa siswa yang belum membawa bunga. Setelah selesai pengarahan seluruh siswa menuju taman kelasnya masing-masing.
Seluruh siswa sibuk mengurus tamannya masing-masing, ada yang mencangkul dan ada yang menanam bunga dengan didampingi oleh guru kelasnya.
Sedang asyiknya bergotong royong, saya melihat ada keributan. Ternyata ada dua orang wali siswa kelas V.5 sedang bertengkar mulut yang disaksikan oleh para siswa. Saya mendekati keduanya sambil berusaha melerai pertengkaran tersebut. Tampaknya hal ini tidak dapat didamaikan, karena kedua-duanya sama-sama emosi. Saya berusaha membawa salah satu orang tua siswa (sebut saja Bapak A) keluar pekarangan sekolah, supaya tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diingini.
Setelah diselidiki, ternyata Bapak A telah dikirimi SMS yang tidak senonoh dari HP anaknya sendiri sebanyak dua kali (pan*** ko yah, Bapak A pan***) Setelah mendapat SMS yang tidak senonoh tersebut, Bapak A langsung datang ke sekolah. Sesampainya di sekolah ternyata ada seorang anak sedang menelepon bapaknya (sebut saja Bapak B) untuk mengantarkan uang jajan nya yang tertinggal di mobil.sedang memakai HP anaknya.
“Kamu ya yang mengirim SMS ini kepada saya”, kata Bapak A
Bapak B yang sedang menerima telepon dari anaknya mendengar suara orang dewasa dari HP nya, dan langsung menuju sekolah. Dia melihat Bapak A sedang memarahi anaknya, Bapak B langsung emosi dan terjadilah pertengkaran mulut antara kedua orang tua tersebut.
Saya memanggil kedua anak yang bapaknya bertengkar tadi. Ternyata, selain anak Bapak B, masih ada dua anak lagi yang memakai HP anak Bapak A. Saya juga memanggil dua anak tersebut. Setelah di intrograsi, tidak ada satu pun anak yang mengaku mengirim SMS yang tidak senonoh itu kepada Bapak A.
Para pembaca yang budiman, tolong beri kritik dan sarannya dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Senin, 20 September 2010

Hampir Mati karena Menghisap Ganja (Narkoba)


Setiap sore, setelah menyelesaikan tugas rumah (menimba air), saya bermain bola voli dengan para pemuda dan pemudi yang ada di daerah tempat saya tinggal. Lapangan voli nya masih darurat. Line nya digaris setiap kali mau main, net nya ditambatkan dari pohon kelapa yang satu ke pohon kelapa yang lain.
Saya sebenarnya tidak hobi bermain voli. Saya bermain voli karena tertarik kepada seorang cewek yang setiap sore bermain disitu hehehe .....
Pada suatu sore sewaktu saya mau berangkat ke lapangan, saya melihat teman-teman saya yang lain (Swaran Singh, Sokhbinder Singh, dan Sentot Purgataria Syuman) sedang duduk-duduk dibelakang rumah kos nya Swaran Singh. Mereka itu adalah pecandu berat ganja. Saya mampir untuk mencoba sedikt, barang kali mereka memang sedang :menggelek (mengisap ganja). Ternyata sewaktu saya datang mereka sedang melinting ganja (mencampur ganja dengan rokok Jie Sam Sou).Kami berempat menghisap secara bergiliran. Setelah menghisap beberapa kali, mata teman-teman semua nya memerah dan sipit, termasuk saya. Bahkan menurut mereka mata saya lah yang paling merah. Setelah habis, saya mencoba mengisi buku TTS yang kebetulan ada di situ.Tidak beberapa lama saya membaca, saya melihat hurufnya kok berlarian kesana kemari. Badan saya pun mulai terasa lemas. Saya minta izin istirahat di kamar Swaran Singh. Setelah sampai di kamar, ada perasaan ingin meninggal. Saya berfikir kalau meninggal di rumah orang tentu nantinya akan merepotkan orang lain, lebih baik meninggal di rumah sendiri. Saya langsung pulang dan tidur, tetapi mata ini tidak mau tidur karena perasaan mau meninggal ini terus berdansa di dalam kepala saya. Sementara rupanya saya belum sholat Ashar. Walaupun badan lemas saya paksakan untuk mengambil wuduk. Akhirnya selesai juga saya melaksanakan sholat walaupun dengan badan menggigil karena terlalu lemas.
 Setelah sholat saya bercemin di kaca. Saya lihat mata saya tidak bercahaya, persis seperti mata mayat dan muka saya pucat pasi seperti kapas.Tidak beberapa lama masuk adik saya Yusuf Gamal, langsung saya beritahu bahwa saya akan meninggal. Sempat juga dia saya beri nasehat agar dapat menjaga adik-adik kami yang lain (saya anak tertua dari tujuh bersaudara), karena kalau saya meninggal dialah yang menjadi anak yang paling besar.
Pada saat itu Bapak saya sedang mengajar di sekolah dan ibu saya sedang ada acara di kantor lurah Sukajadi. Saya menyuruh adik saya tadi untuk menjemput mereka. Sesampai di rumah Ibu saya langsung meraung-raung melihat keadaan saya (maklum anak kesayangan hehehe...), sedangkan Bapak saya tetap tabah dan sabar.
Orang semakin banyak berdatangan ke rumah, dan saya pun sudah berangsur-angsur pulih. Saya ceritakan semua  permasalahan ini kepada mereka, spontan mereka membawa saya ke rumah sakit, walaupun saya berusaha menolak, tapi karena mereka ramai, saya tidak bisa mengelak. Saya digotong beramai-ramai masuk ke dalam oplet untuk di bawa ke dokter praktek di jalan Ahmad Yani. Doketr sempat mengancam, akan mengadukan hal ini kepada atasan saya, yaitu Kepala Sekolah Dasar Negeri 021 Kecamatan Limapuluh, kalau saya masih terus melakukan hal tersebut.
Semenjak itu saya berjanji tidak akan mau lagi menghisap ganja, karena saya sudah mengalami sendiri bahwa manfaatnya tidak ada. Dan kepada anak-anak muda, saya nasehatkan, jauhilah ganja serta sejenisnya. karena selain tidak bermanfaat, juga merusak kesehatan.